Pengalamanku dengan Tulpa (Part 1)
(Rewrite dari beberapa blog sebelumnya dan diary-diary pribadiku)
- di tulis dengan stream of conciusness
Judul yang lebih tepat: Pengalamanku Menyendiri
bagian 1 dari "Pengalamanku menciptakan Tulpa"
oke seperti judulnya, pengalamanku menciptakan tulpa tak jauh-jauh dari perasaan kesepian dan kesendirianku dalam kemasyarakatan di sekolah.
ketidakmampuanku bersosial karena penutupan diri sejak SD dan SMP membuatku tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, dan semua orang di kelas ku pandang mereka hanya sebagai "kenalan" yang tak lebih dari sekedar teman yang akan pergi memilih kehidupan masing-masing.
bagi orang lain, atau pandangan umum mungkin aku dikenal sebagai seseorang yang tertutup banget, nolep, dan pendiam, kira-kira itu sifat dasarku. Individualistik.
Kesepian bikin aku sadar, kalau aku mulai sering di serang terus menerus sama pikiran negatif seperti overthinking dan dorongan perfeksionisme.
tapi sisi positifnya mungkin aku jadi lebih berpikir mendalam walaupun dengan pemahaman dangkal mengenai Eksistensialisme, meskipun suka itu namun rasanya masih dangkal karena hanya sebatas ringkasan online dan Chatbot, belum sedalam orang-orang. namun aku gak akan terlalu mendalami filsafat eksistensialisme hanya karena aku sedang dalam krisis eksistensialisme sekarang.
agak lebay banget gak sih, remaja 16 tahun ngerasa krisis eksistensial di umur mudanya?
mungkin iya ku akui, aku sering terbawa suasana karena hatiku yang sensitif ini, mungkin juga "Labil"
namun ya meskipun begitu sekarang aku.juga mulai sadar kalau rasa kesepian ini tuh cuman *perasaan" doang yang gak jelas kenapa aku ngerasa sedih pas sendirian. padahal seharusnya waktu sendirian adalah hal yang paling menyenangkan gitu bisa di pakai untuk kegiatan pribadi seperti menulis, menggambar, mendengar musik, dan menonton anime.
tapi kalau di pikir-pikir kalau punya banyak pikiran pas sendirian itu jelas bukan hal yang menyenangkan juga sih :/.
Gak ingin berlama-lama terus bergulat dengan overthinking dan kesendirian, akhirnya aku mutusin untuk membuat sebuah konsep internal yang berbasis konsep perrtemanan yang tulus, dengan tujuan sederhana yakni berteman.
Yakni sebuah Tulpa yang bersifat Konseptual.