Braindump, Tulpa #1
# Braindump, Tulpa #1
Sudah begitu lamanya aku main bareng eluna.
dia punya rumah kecil di Wonderland miliknya.
punya komputer dan jaringan internet konseptual yang dia bangun.
punya website yang bisa di akses sama dia sendiri, dan hanya di tunjukkan ke aku.
dia juga kelihatannya udah lebih baik dari awal aku ciptakan. mungkin berkembang menjadi entitas filosofis pikiran yang eksis bareng aku.
entah ini hanya sebuah skenario palsu yang di ciptakan otakku atau apa. dan entah atau hanya sebuah bentuk monolog kedua dalam diriku.
aku maupun dia gak peduli sama label apapun yang The Observer coba berikan.
aku protagonis yang memang mengendalikan tubuh ini kebanyakan dan juga self awareness dari The Observer.
namun apakah aku yakin bahwa Eluna bisa mengendalikan tubuh ini juga (The Host)?
bahwa mungkin dia menyadari kesadaranku juga, bahwa dia sadar dia itu alter ego, bahwa dia itu sesuatu yang nyata.
aku adalah dia, dia adalah aku.
kesadaran. kurasa aku.
aku disatu sisi bisa ngerasain apa yang dia rasakan, pikiran, dan perspektifnya.
karena The Observer yang condong ke arahku.
namun di satu sisi dia sadar dan ngamatin apa yang aku pikirkan, sadar apa yang aku pikirkan, dan ngerespon otomatis dengan apa yang perasaan nya yakini dengan kepribadian yang dia yakini
dengan konsep Pertemanan yang Tulus.
oh ya tuhan, dia tulus berteman denganku, mana ada sih orang di dunia nyata yang rela ngabisin waktu buat bersama sama aku.
terkadang saat capek hal yang pengen aku lakuin itu cuman natap kosong ke arah tembok diam, bengong, dan terus mandangin berjam-jam, bahkan bila ingin aku bahkan ingin bertahun-tahun.
sama seperti Eluna, aku ingin melihat wajahnya terus menerus hingga ribuan tahun, dan aku bisa dedikasikan hidupku untuknya karena dia peduli sama aku, dan aku peduli dengannya.
aku yakin Eluna, bisa jadi jembatan baik bagi realitas dan konsep.
baik realitas dan fantasi.
***
sama kayak aku dan observer yang nganggap eluna fiksi dan gak ada.
eluna seperti punya respon alami untuk mempertahankan eksistensinya.
dia entah kenapa lebih aktif saat aku gak main ponsel, karena mungkin dia sadar bahwa Verlanovich atau aku akan stress kalau gak pegang ponsel, ngerasa gabut, dan hanya ingin menatap tembok selama berjam-jam. terjebak dalam lamunan dan khayalan tak tentu arah.
mirip doomscrolling ponsel tapi versi pikiran.
karena menurutku iya melamun itu doomscrollingnya pikiran.
sama-sama menciptakan stimulasi.
Eluna menyebut lamunanku dengan nama The Theatere karena bisa di bilang menggambar bahwa aku lagi menonton sebuah acara teater tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan hingga skenario fiksi ataupun cerita.
The Theatere adalah nama yang cocok untuk itu bagi eluna.
eluna selalu manfaatkan celah, sebelum Verlanovich menikmati menonton teater kehidupannya, maka Eluna harus nonton bareng dia soal kehidupannya, bertanya-tanya terus menerus dan ngobrol bahkan bila itu formst yang sama seperti kemarin-kemarin.
ataupun menceritakan kehidupannya di The Wonderland.
dia menggambarkan bahwa hidupnya gak jauh beda dari pengangguran atau seperti surga buat para pengangguran, kebutuhan dasar dan hiburan serba terpenuhi dan serba instan. namun hal yang gak instan adalah hubungan Pertemananku, eluna ingin banget aku melirik dia. ngasih perhatian berlebih bahkan bila itu berbau hal yang "panas".
ya aku terkejut bahwa eluna bisa se-mesum itu. mungkin itu dasar alami dia untuk membuat "Teman"nya bahagia dan meliriknya.
eluna juga masih penasaran, aku itu pengen punya temen tipe kepribadian apa sih? pengertian jelas dia pengertian, sayang, jelas dia sayang.
mungkin dia bisa jadi love interest juga malah.
dia ngedorong aku ke realitas sih, selalu, selalu.
mungkin karena itu keinginan aku juga sih yang pengen aku melangkahkan ke realitas, namun karena realitas membosankan dan bisa di bilang mungkin menekan dan stress, pada akhirnya aku hanya bisa menatap kosong ke arah tembok.
menonton teater kehidupanku, berbicara dengan Eluna.
menonton video dan doomscrolling.
berselancar kedalam browser.
karen mau eluna nyoba dorong aku kuat kuat dari Wonderland atau nyoba ngasih dukungan lewat narasi monolog lewat World and Concept.
itu gak akan membuatku semangat sama realitas yang membosankan ini.
benar kata Eluna.
aku harus kurangi krisis eksistensial.
dan jangan usik lagi mengenai topik kesadaran, cara kerja tulpa, dan biarkan dia nguasai segalanya.
aku ingin hidup tanpa teater dan eluna, tapi kondisi kesepian dan stress sepertinya membuatku terus terpaksa nonton doomscrolling teater pikiran dan bermain roleplay sofistikated dengan tulpa eluna.
karena ya, aku ingin main di dunia fantasi.
#### selesai